JEJAK DI TANZANIA
Episode 1: Jejak Pertama di Tanzania
Oleh Rani Nawang Sari
Mentari pagi Lubuk Raja menyapa dengan sinarnya yang hangat, menerobos celah-celah pepohonan rindang di sepanjang jalan menuju SMAN 2 Ogan Komering Ulu. Tahun ajaran 2023/2024 baru saja dimulai, dan di gerbang sekolah yang tampak kokoh dengan cat putih dan biru yang sedikit mengelupas di beberapa sudutnya, terlihat lautan seragam putih abu-abu yang didominasi wajah-wajah baru kelas X. Mereka adalah para pemilik cerita baru di sekolah yang menyimpan sejarah unik, diresmikan oleh seorang presiden dari benua Afrika nun jauh di sana.
Di tengah keramaian itu, berdiri seorang gadis bernama Rara. Rambutnya yang dikepang dua tampak sedikit berantakan karena beberapa kali ia membetulkan letak tas ransel barunya yang terasa asing di punggungnya. Matanya memindai setiap sudut gerbang, mencoba mencari wajah-wajah yang familiar dari SMP-nya dulu, namun nihil. Ia adalah siswi pindahan, sebuah keputusan keluarga yang membuatnya harus beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru di SMA yang terkenal dengan julukan "SMA Tanzania" itu. Bisik-bisik tentang nama sekolah yang unik itu sudah sampai telinganya sejak jauh hari, membuatnya sedikit penasaran sekaligus merasa asing.
"Besar sekali sekolahnya," gumam Rara pelan, mencoba menenangkan kegugupan yang mulai menyeruak di dadanya. Ia memegang erat selembar kertas berisi denah sekolah dan nomor kelas yang diberikan saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) beberapa hari sebelumnya. Namun, di tengah riuhnya ratusan siswa yang lalu lalang, denah itu terasa seperti peta buta.
Tiba-tiba, dari arah belakang, terdengar sapaan riang, "Hai! Anak kelas X juga?"
Rara menoleh dan mendapati seorang remaja laki-laki dengan senyum lebar dan rambut sedikit gondrong yang menyapa dengan ramah. Laki-laki itu mengenakan seragam yang sama dengannya, namun tampak lebih santai dan percaya diri. Di sampingnya, berdiri seorang temannya yang bertubuh tinggi dan berkacamata tebal, ikut tersenyum tipis.
"Iya," jawab Rara sedikit ragu. "Aku baru pindah ke sini."
"Oh, anak baru ya? Selamat datang di SMA Tanzania!" seru laki-laki itu dengan antusias. "Aku Bima, dan ini teman baikku, Rio." Rio mengangguk singkat sebagai sapaan.
Rara sedikit lega mendapati keramahan mereka. "Aku Rara," balasnya sambil tersenyum tipis.
"Bingung cari kelas?" tanya Bima, seolah bisa membaca kebingungan di wajah Rara. "Kelas X ada di gedung sebelah sana, yang catnya agak pudar itu. Jangan khawatir, nanti juga hafal kok."
Sebelum Rara sempat menjawab, dari arah berlawanan, seorang gadis dengan rambut lurus sebahu dan tatapan mata yang fokus berjalan terburu-buru sambil membawa setumpuk buku tebal. Ia tampak tidak terlalu peduli dengan keramaian di sekitarnya. Gadis itu mengenakan seragam yang sama, namun aura ketegasannya membuatnya terlihat berbeda.
Bruk!
Tanpa sengaja, Rara yang masih sedikit linglung bertabrakan dengan gadis itu. Buku-buku yang dibawa gadis itu berhamburan di lantai, begitu juga beberapa buku catatan Rara yang baru ia beli. Suasana yang tadinya ramah seketika berubah canggung.
"Aduh, maaf!" ucap Rara cepat, merasa bersalah. Ia segera berjongkok untuk memunguti buku-buku yang berserakan.
Gadis itu mendengus pelan tanpa menatap Rara. "Lain kali hati-hati kalau jalan," ujarnya dengan nada dingin sambil ikut memunguti bukunya.
Bima dan Rio ikut membantu memungut buku. "Santai saja, Sinta. Namanya juga hari pertama," kata Bima mencoba mencairkan suasana.
Gadis yang ternyata bernama Sinta itu hanya melirik Bima sekilas, lalu kembali fokus pada buku-bukunya. Setelah semua buku terkumpul, ia berdiri dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, langsung melangkah pergi meninggalkan Rara yang merasa tidak enak.
"Wah, Sinta memang begitu orangnya," celetuk Rio setelah Sinta menjauh. "Dia itu pintar sekali, juara umum SMP dulu, tapi ya... agak kurang ramah."
Rara hanya mengangguk pelan, masih merasa sedikit terkejut dengan sikap Sinta. "Tidak apa-apa," jawabnya berusaha bersikap positif.
Bima kemudian menepuk pundak Rara. "Jangan diambil hati. Ayo, aku antar kamu ke gedung kelas X. Kebetulan kelasku juga di sana." Rio mengikutinya dari belakang.
Sepanjang perjalanan menuju gedung kelas X, Bima bercerita banyak hal tentang SMA Tanzania. Ia menjelaskan kenapa sekolah mereka memiliki nama yang unik, tentang kepala sekolah mereka yang bernama Bapak Agus Sudiana, dan tentang berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang ada. Rara mendengarkan dengan antusias, merasa sedikit demi sedikit kehangatan mulai menyelimutinya di sekolah baru ini.
Di sisi lain, di tengah kerumunan siswa kelas X yang sedang mencari kelas masing-masing, terlihat seorang remaja laki-laki dengan gaya rambut sedikit urakan dan senyum jahil di bibirnya. Ia adalah Kevin, siswa yang dikenal humoris sejak SMP dan selalu punya cara untuk membuat teman-temannya tertawa. Di hari pertama ini, ia sudah berhasil membuat beberapa teman barunya terpingkal-pingkal dengan lelucon-leluconnya. Namun, di balik tawanya, tersimpan sedikit kekhawatiran tentang pelajaran di SMA yang katanya jauh lebih sulit dari SMP.
Kevin melihat Rara yang sedang berjalan bersama Bima dan Rio. Ia teringat pernah melihat Rara saat MPLS, tampak sedikit pendiam. "Hei, Bima! Kenalan baru nih?" serunya dengan nada keras.
Bima menoleh dan tersenyum. "Iya, ini Rara, anak pindahan. Rara, kenalin ini Kevin, si tukang lawak sekolah."
Kevin mengulurkan tangannya sambil menyeringai. "Hai, Rara! Selamat datang di sekolah yang namanya bikin bingung turis!"
Rara tertawa kecil, merasa sedikit terhibur dengan celetukan Kevin. "Terima kasih," balasnya.
Bel tanda masuk berbunyi nyaring, memecah obrolan mereka. Semua siswa bergegas menuju kelas masing-masing. Bima dan Kevin ternyata berada di kelas yang sama, begitu juga dengan Rara. Mereka bertiga berjalan bersama menuju kelas X-1 yang terletak didekat Unit Kesehatan Sekolah.
Saat mereka memasuki kelas, sebagian besar bangku sudah terisi. Rara memilih tempat duduk di barisan tengah, dekat jendela. Bima dan Kevin duduk di bangku belakangnya. Suasana kelas masih riuh rendah dengan perkenalan antar siswa.
Tak lama kemudian, seorang guru perempuan paruh baya dengan senyum ramah memasuki kelas. "Selamat pagi, anak-anak! Selamat datang di SMAN 2 Ogan Komering Ulu, atau yang lebih keren disebut SMA Tanzania!"
Sontak, tawa kecil memenuhi ruangan. Ibu guru itu kemudian memperkenalkan diri sebagai wali kelas X-1 dan mulai memberikan pengarahan tentang tata tertib sekolah serta jadwal pelajaran.
Rara mendengarkan dengan saksama, mencoba menyerap setiap informasi yang diberikan. Sesekali, ia melirik ke arah Bima dan Kevin yang tampak sudah akrab dengan beberapa siswa lain di kelas. Ia merasa sedikit tertinggal, namun keramahan Bima dan Kevin membuatnya merasa lebih tenang.
Di bangku paling depan, duduk Sinta seorang diri. Ia tampak fokus mencatat setiap perkataan ibu guru, tanpa memperdulikan suasana riuh di sekitarnya. Rara kembali teringat pertemuannya yang kurang menyenangkan tadi pagi. Ia bertanya-tanya, kenapa gadis sepintar itu terlihat begitu dingin dan menjaga jarak.
Hari pertama di SMA Tanzania berjalan dengan cepat. Berbagai mata pelajaran baru diperkenalkan, guru-guru silih berganti masuk dan keluar kelas. Rara mencoba berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya, meskipun masih terasa sedikit canggung. Namun, kehadiran Bima dan Kevin di dekatnya sedikit banyak membantu mencairkan suasana.
Saat bel pulang berbunyi, Rara menghela napas lega. Hari pertama yang penuh kejutan dan adaptasi akhirnya usai. Ia berjalan keluar kelas bersama Bima dan Kevin. Di gerbang sekolah, ia melihat Sinta berjalan sendirian, memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Sampai jumpa besok, Rara!" seru Bima sambil melambaikan tangan.
"Hati-hati di jalan!" timpal Kevin.
Rara membalas lambaian tangan mereka dan berjalan menuju gerbang sekolah. Ia menatap bangunan sekolah yang mulai sepi. SMA Tanzania. Nama yang unik, awal yang penuh tantangan, dan harapan akan persahabatan baru. Jejak pertamanya di Tanzania telah terukir, dan ia penasaran dengan cerita-cerita apa lagi yang akan menantinya di hari-hari berikutnya.

0 Comments